Jumat, November 14, 2008

Teori Matematika Sedekah Ustad Yusuf

Kemarin sempat membaca artikel Yusuf Mansyur v.s Satpam POM bensin. Wah, menarik banget dibaca jadi inget mengenai matematika sedekah yang diajarkan olah ustad Yusuf beberapa bulan yang lalu.

Tapi sebelum saya belajar dari beliau ditelevisi, sebenarnya saya sendiri sudah mengalaminya kejadian yang sangat-sangat istimewa dan membuktikan tentang teori sedekah Ustad Yusuf Mansyur. Tepatnya 2 tahun yang lalu ketika bulan puasa atau Ramadhan. Sebelum shalat Jum'at saya sempat mengecek isi dompet saya yang memang sudah weekend dan jatahnya juga udah hampir abis. ATM juga jauh dari tempat saya bekerja. Begitu dibuka hanya tersisa Rp 20.000,- dengan satu lembar. Hm.... kalo untuk makan atau buka puasa Rp 10.000,- maka untuk amal bisa Rp 10.000 , sedangkan bensin motor masih cukuplah untuk pulang. Paling hari Sabtu ngambil lagi ke ATM.

Kemudian,begitu masuk mesjid baru sadar kalo uang yang ada didompet cuma satu lembar yang tidak bisa dipecah lagi. Gimana ya? jadi inget kalo dulu SMA, kotak amalnya bisa ngambil kembalian. Ya sudah saya putuskan saja untuk memberikan sedekah seluruhnya. Kalo memang nanti harus buka puasa dikantor ya tinggal ta'jil sama nahan deh sampe rumah.

Bersyukur banget, sebelum magrib ada teman yang menawarkan untuk buka puasa bersama di Hotel Shangrila dalam acara vendor. Alhamdulillah, selain menunya enak dengan kualitas bintang 5, saya juga dapat shalat magrib tepat waktu (jarang loh ada acara buka yang Shalat magribnya tepat waktu).

Yang lebih bersyukur lagi adalah ketika ada pembagian door price yang menyebutkan bahwa saya mendapatkan doorprice untuk flashdisk (pada waktu itu harganya sekitar Rp200 ribuan). Tambah seneng deh hatiku...,

Ini berarti cocok banget dengan teori sedekah yang diajarkan oleh Ustad Yusuf, memberikan ilustrasi yang sangat mudah dan “gamblang”, bagaimana sebenarnya sistem sedekah ini bekerja. Ini sungguh luar biasa prima, maka ustad ini menunjukkan sekaligus mengingatkan ke setiap penonton TV, bahwa Allah sendiri telah menjanjikan, jika manusia mau bersedekah, maka Allah pasti akan menggantinya dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) kali lipat. Dan, ini ada dasar hukumnya, yaitu tertulis di dalam Al-Qur’an Surat: 6, Ayat: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10 x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik. Bahkan di dalam Al-Qur’an Surat: 2, Ayat: 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 x lipat.

Dia memberikan ilustrasinya sebagai berikut:
10 - 1 = 9 … ini ilmu matematika yang biasa kita terima di sekolah dulu.
Tetapi ilmu Matematika Sedekah adalah sebagai berikut:
10 - 1 = 19 … ini menggunakan dasar, bahwa Allah membalas 10 x lipat pemberian kita.
Jadi kalau dijumlah akan menunjukkan total akhir sbb:

10 - 1 = 9
+ 1 = 10 ... balasan Allah
------------------ +
19

Sehingga kalau dilanjutkan, maka akan ketemu ilustrasi seperti berikut ini:
10 - 2 = 28
10 - 3 = 37
10 - 4 = 46
10 - 5 = 55
10 - 6 = 64
10 - 7 = 73
10 - 8 = 82
10 - 9 = 91
10 - 10 = 100

Lihat deh akhirnya. Kita tinggal mengalikan dengan angka 10, berapa pun yang kita sedekah kan atau kita berikan dengan ikhlas kepada orang lain yang membutuhkan bantuan kita. Ingatlah, balasan 10 x lipat dari Allah itu adalah balasan minimal. Dan, kita pakai balasan dari Allah yang minimal saja sebagai acuan berhitung, yaitu 10 x lipat, tidak usah berhitung yang 700 x lipat…nanti terlalu wah… Oleh karena itu, saya merasa rugi besar jika saya hanya mengeluarkan sedekah dengan jumlah minimal. Semakin banyak bersedekah, maka pasti semakin banyak penggantiannya dari Allah SWT.

Tinggal kita yang mau membuka mata, bahwa pengembalian dari Allah itu bentuknya apa? Bukalah “mata hati” kita, selalu lah berpikir positif kepada Allah. Bukankah Allah berfirman, “Aku adalah sebagaimana yang diprasangkakan hamba-Ku kepada-Ku”. Oleh karena itu, selalu lah berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan dengan serta merta menunjukkan KeMaha Kebaikan-Nya kepada kita. Allah pasti membalas kebaikan kita dengan balasan yang PAS, yang setimpal dengan amal perbuatan kita.

ya Allah, Engkau memang Maha Pengasih dan Pemurah. Tapi mengapa hati ini masihlah terkadang beku akan keajaiban-keajaiban Mu.

5 komentar:

aprilmopgal mengatakan...

makasih ya pak...
postingan lo kali ini bner2 jadi penyejuk rohani gw pagi2
gini...
keep posting such a thing like this ya...

Bima Indra Gunawan mengatakan...

itu juga gak sengaja nulis, abis lagi futur juga sih

Anonim mengatakan...

Ass,…

Maaf ya… apa cerita gini ga malah ngajarin kita untuk gambling dan ga ikhlas….

Kalo saya menerawang, berempati, dan membayangkan kondisi dalam cerita di atas seakan akan saya seperti melihat seseorang yang sudah (*maaf) mempertaruhkan uangnya untuk berjudi dan melihat semuanya disekelilingnya berdebar-debar menunggu apakah dapat ngga nih orang ini…

Terus yang kedua, Kok niatnya saya kira salah ya \, terkesan kita bersedekah, atau solat tepat waktu itu ada yang dikejar, yaitu imbalan rejeki yang berlimpah ruah… bukan bersedekah karena rasa sosial kita ingin membantu sesama, agar orang yang kita bantu minimal bisa merasakan apa yang kita rasa, atau menaikan derajat hidup orang yang kita tolong agar dia nantinya juga bisa seperti kita menolong orang lain….

Sekian,

Wassalam

Bima Indra Gunawan mengatakan...

Salam Kenal....
Terima kasih udah mampir. Terima kasih juga buat sarannya. Memang tujuan utamanya bukan seperti itu, itu cuma batu loncatan agar kita berbuat baik.

Menurut pendapat saya: biasanya seseorang bersedakah itu memang punya tujuan, apalagi untuk seseorang yang baru pertama kali melakukan amal baik. Coba deh perhatikan anak kecil yang masih belajar shalat, pasti dia shalat karena takut sama orang tua. Tentu tujuannya juga jadi Riya kan? tapi apa yang terjadi ketika sudah terbiasa? Sama halnya dengan beramal.

Semoga Allah memberikan rahmat,anak tersebut menjadi menikmati shalat karena Allah,berbuat amal untuk sesama.
Jadi, itu hanya pancingan untuk sesaat. Lagi pula , lebih baik mana apabila kita beramal tapi riya dengan kita tidak beramal karena takut riya ? Hmmmm... saya rasa lebih baik beramal, setidaknya ya itu tadi
"rasa sosial kita ingin membantu sesama, agar orang yang kita bantu minimal bisa merasakan apa yang kita rasa, atau menaikan derajat hidup orang yang kita tolong agar dia nantinya juga bisa seperti kita menolong orang lain…."

Semua amalan dan pahala itu urusan ALLAH.

Anonim mengatakan...

Fitrah manusia, ingin selalu kaya, dan Alloh paham betul. Masalahnya apakah manusia yakin sama Alloh?? Kalo yakin, silahkan bersedekah, jika sudah terbiasa bersedekah, maka rasa peduli, jiwa sosial akan mendarah dengan sendirinya.

Rahmat Y